Friday, 14 February 2014

TRADISI SEKATEN

Tradisi Sekaten di Solo & Jogja
Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammads.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awaltahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.
Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi Dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelanJawa: Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendopo Ponconiti menuju masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.
Grebeg Muludan
Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w.) mulai jam 8:00 pagi. Dengan dikawal oleh 10 macam (bregodo/kompi) prajurit Kraton: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis, sebuah Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah dido'akan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.
Tumplak Wajik
Dua hari sebelum acara Grebeg Muludan, suatu upacara Tumplak Wajik diadakan di halaman istana Magangan pada jam 16:00 sore. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan,lumpang untuk menumbuk padi, dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan Gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Tumplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya.









Tradisi Sekaten di Solo & Jogja 2

Setiap menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dikota Solo dan Yogyakarta selalu diadakan kegiatan khusus yakni Sekaten. Perayaan khas Jawa ini berlangsung sejak awal penyebaran Islam yang dilakukan Walisanga. Sekaten berasal dari kata syahadatain atau dua kalimat syahadat yang menunjukkan kesaksian pemeluk agama Islam atas keesaan Allah SWT dan kenabian Muhammad.

Selain digelar pasar rakyat yang memasarkan souvenir dan kerajinan tangan, perayaan Sekaten dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan tradisi serta pameran benda-benda pusaka di keraton. Prosesi ritual berupa dibunyikan gamelan klasik Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari mulai pukul 09.00-24.00 (hanya istirahat saat waktu salat) di Bangsal Masjid Agung.
Upacara ini serentak diadakan di dua kota, yakni Solo dan Yogyakarta. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Hingga kini tradisi gamelan tetap dipertahankan sebagai penanda dimulainya perayaan Sekaten. Sekaten resmi dibuka pada hari Kamis lalu (17/1), dan akan berlangsung selama satu minggu, dengan puncak acara yakni Grebeg Mulud pada 24 Januari nanti.
Dua perangkat gamelan pusaka diangkut dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Gede Kauman, untuk prosesi Miyos Gongso di Keraton Ngayogyakarta. Gamelan pertama bernama Kyai Guntur Madu yang berada di bangsal Pradangga (sebelah kanan/selatan Masjid Agung Kasunanan Surakarta), dan yang kedua adalah Kyai Guntur Sari yang berada di bangsal Pragangga (sebelah kiri/utara Masjid Agung Kasunanan Surakarta). Sebanyak 120 abdi dalem keraton turut mengawal gamelan ini dari keraton menuju Masjid Agung.

Ada ritual khusus bagi para penabuh gamelan (pengrawit). Mereka wajib berpuasa sebelumnya dan memberikan sesajen berupa kembang, kemenyan, dan variasi buah-buhan pada kedua gamelan pusaka tersebut. Saat bertugas, para pengrawit juga mengenakan seragam khusus.

Kedua set gamelan dimainkan secara bergantian dari pagi hingga menjelang petang, selama 7 hari berturut-turut setelah sebelumnya diadakan pembacaan doa. Sesaat setelah gamelan ditabuh, janur kuning yang dipakai untuk menghias bangsal masjid keraton diperebutkan warga yang memenuhi lokasi. Janur kuning dipercaya dapat membawa berkah bagi hidup mereka. Pada malam terakhir (11 Mulud/ 23 Januari 2013), kedua gamelan pusaka akan dibawa pulang ke dalam Keraton.

Selain rangkaian upacara dan tradisi, Sekaten di kota berslogan The Spirit of Java ini juga diramaikan oleh pasar malam yang hanya muncul saat Sekaten saja. Pasar Malam Sekaten diadakan di Alun-alun Utara, Keraton Surakarta Hadiningrat. Berbagai wahana permainan masa kecil seperti komidi putar, bianglala, dan bombom car, ada di pasar ini. Selain itu, barang-barang unik yang jarang dijual di kota besar seperti celengan gerabah dan kapal tuk-tuk juga bisa Anda temukan di sana.

Yang menarik adalah tampak ribuan orang memadati halaman Masjid Agung. Mereka mengerumuni dua bangsal yang disebut pagongan atau Bangsal Pradangga. Dan uniknya, di sekeliling bangsal banyak terdapat penjual kinang.

Para penjual kinang yang sebagian besar nenek-nenek tadi pun dikerubuti oleh para pembeli. Satu paket kinang yang berisi daun sirih, bunga kantil, tembakau, dan enjet (batu kapur) dijual seharga Rp 2.000 - Rp 3.000.

Saat gamelan ditabuh pula, tanpa dikomando, masyarakat langsung beramai-ramai menginang. Mereka langsung mengunyah tembakau, lalu mengoleskan ke gigi. Mulut pun berubah menjadi kecoklatan.

Puncak perayaan Sekaten ditandai dengan diadakannya Grebeg Mulud, yang ditandai dengan keluarnya Gunungan Jaler dan Gunungan Estriakan. Dua tumpeng raksasa tersebut diarak dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung sekitar pukul 08:00. Momen puncak ini menarik perhatian ribuan warga. Mereka tak hanya datang dari Solo, namun juga daerah-daerah di sekitarnya, seperti Sragen, Karanganyar, Wonogiri, dan lain-lain.

Pengunjung yang hadir berharap ikut mendapatkan isi gunungan yang terdiri dari berbagai macam hasil bumi dan jajanan pasar. Biasanya berisi beras ketan, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Pada momen ini, seluruh abdi dalem Keraton Surakarta beserta kerabat keraton ikut berkumpul. Gunungan didoakan terlebih dahulu sebelum kemudian dibagikan kepada masyakarat.

Kalau Anda mempunyai hobi travelling atau fotoghrafi, perayaan Sekaten di Solo termasuk yang sayang untuk dilewatkan. Sebab di sinilah berpadu unsur tradisi dan religi yang ajarannya masih kuat dianut oleh warga Solo. Belum terlambat, masih ada waktu dua hari untuk berkemas dan meluncur ke Solo untuk ikut hanyut dalam kemeriahan Sekaten. 



No comments:

Post a Comment